Abraham Samad Deklarasi Calon Presiden di Makassar

Abraham Samad deklarasi sebagai calon presiden di Makassar

Abraham Samad deklarasi sebagai calon presiden di Makassar

MAKASSAR, DJOURNALIST.com  –  Ribuan Masyarakat yang tergabung dalam Komunitas Indonesia Timur, mendeklarasikan Abraham Samad sebagai calon Presiden Indoensia. Deklarasi ini digelar di Anjungan Pantai Losari, Senin 7 Mei 2018.

Kedatangan Abraham Samad di Kota Daeng ini, disambut dengan persembahan ‘Angngaru’ sebagai salah satu ritual adat Bugis-Makassar untuk menyambut tamu penting.

Dalam orasi kebangsaannya, Abraham Samad mengatakan bahwa perpolitikan Indonesia saat ini penuh dengan persekongkolan, konspirasi, dan tipu muslihat serta dicengkram oleh kapitalisme kroni.

“Sudah berapa banyak pejabat negara yang menjadi tersangka korupsi. Padahal mereka adalah orang-orang berdasi dan berpendidikan tinggi. Mulai dari kepala daerah, hamba penegak hukum, anggota DPR dan DPRD, bahkan sampai ke level menteri,” kata Abraham.

Ia juga menerangkan bahwa kursi kekuasaan saat ini diperjual belikan dengan harga yang mahal khususnya bagi mereka ynag memiliki itegritas dan dedikasi yang tinggi. Perpolitik yang berjaya saat ini penuh dnegan tipu muslihat dan miskin nurani.

“Tidak sedikit diantara mereka terpental cuma karena menolak ikut arus, kalaupun berhasil, para demagog dan sengkuni tak henti bersiasat agar orag-orang baik itu mampu!” jelasnya.

Poitik saat ini adalah politik saling makan dan saling terkam. Bahkan Penegakan Hukum hanya dijadikan sebagai penutup transaksi kepentingan untuk melindungi pejabat, dan lebih mengarahaka hukuman terhadap rakyat.

“Renungan kebangsaan saya ini mendapatkan satu titik pijak jawaban yang amat kasat mata. Ihwal penyebab semua yang saya beberkan tadi “Korupsi” , korupsi-lah yang membuat rakyat kita kehilangan haknya. Kotupsi-lah yang mmebuat petani kita kehilangan sawahnya,” ucapnya.

Ia mengatakan bahwa penegakan hukum harus mampu berlaku adil, termasuk seluruh stage holder yang berperan didalamnya. Koruptor harus dihukum seberat-beratnya, dimiskinkan, dan disita asetnya untuk negara, bahkan hukumam mati pun dihalalkan untuk jaminan kepastian hukum.(**)