Jawab Pertanyaan Netizen Soal Kuota hingga Jengkol, Begini Penjelasan Menag

Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin. (foto: ist)

Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin. (foto: ist)

DJOURNALIST.com – Sebagai salah seorang menteri zaman now, sosok Lukman Hakim Saifuddin sangat akrab dengan media sosial. Menag yang punya 425 ribu followers ini cukup aktif mengabarkan via akun twitter @lukmansaifuddin.

Jumat (24/08) sore ba’da Ashar dari Kantor Daker Makkah (baru) ‘Al Mabrur’ di kawasan Syisyah, Makkah, Menag Lukman menyapa langsung netizen melalui akun Instagram dan Fanpage Facebook Kemenag RI. Menag secara sabar dan rileks melayani pelbagai pertanyaan, mulai dari kuota hingga jengkol, atau tentang apresiasi kepada petugas haji.

Terkait kuota misalnya, ada yang tanya penambahan apakah memungkinkan? “Tambahan kuota, selalu ditanyakan banyak kalangan. Saat ini kita memiliki jatah kuota 221 ribu, itu sudah mendapat tambahan kuota 10 ribu,” kata Menag mengawali jawabannya.

“Namun tantangan utama penyelenggaraan haji kita adalah Mina. Tenda terbatas, toilet terbatas.
Sebelum pemerintah Saudi menambah tenda secara bertingkat, dan fasilitas lain maka menambah kuota akan mengancam keselamatan jemaah,” urai Menag.

Diakuinya bahwa untuk saat ini saja, kondisi jemaah cukup mengenaskan karena harus berhimpitan. “Mina sepenuhnya kewenangan pemerintah Saudi, doakan saja semoga permohonan kami terkait penambahan fasilitas disetujui, maka penambahan kuota bisa diwujudkan,” tandasnya seraya menambahkan secara syar’i Mina tidak mungkin diperluas melebar, tapi harus vertikal.

Menu Jengkol
Ada lagi netizen yang juga menjadi jemaah tahun ini dengan polosnya tanya, “Mohon lauk-pauk bisa variatif, kalau bisa jengkol gitu Pak Menteri…”

Menag Lukman sempat tersenyum sebelum menjawab. Menurut putra mantan Menag KH Saifuddin Zuhri (alm) ini, mengatur menu makanan yang variatif sekaligus bergizi dan memuaskan banyak pihak adalah satu hal yang cukup sulit dalam manajemen haji.

“Memenuhi selera lebih dari 200 ribu orang memang sulit. Maka kami memutuskan soal rasa makanan harus moderat, pertengahan, tidak terlalu asin atau pedas,” ungkapnya. “Menu kita tentukan setelah konsultasi dengan ahli gizi, termasuk soal lauk. Bahan makanan juga impor dari Indonesia. Kami memaklumi jika jemaah mengalami kebosanan karena makan di hotel berbintang saja bisa menjemukan, apalagi ini yang tinggal dalam jangka waktu cukup lama,” papar Menag.

Ditambahkan, tidak ada di dunia ini sebuah aktivitas yang menyediakan konsumsi kepada lebih dari 200 ribu orang sebanyak 40 kali di Makkah, 18 kali di Madinah dan 16 kali di fase Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna). “Tiga hari sebelum dan dua hari sesudah Armuzna karena tidak ada layanan katering, jemaah bisa beli makanan sendiri dengan living cost 1.500 SAR yang telah diberikan,” ungkap Menag.

Terakhir, ada netizen yang menyampaikan apresiasi kepada petugas haji. Menag menimpali, “Saya sangat bersyukur dengan petugas kita yang memiliki dedikasi sangat tinggi. Keberhasilan penyelenggaraan tahun ini merupakan buah dari kerja keras petugas. Bahkan saya salut tidak sedikit di antara mereka yang fokus melayani, tanpa berhaji, terima kasih,” pungkas Menag.

Acara Menag sapa langsung netizen ini dimulai tepat pukul 16.30 dan berakhir 17.10 WAS. Begitulah sosok Menag Lukman, dekat dan tiada berjarak kepada semua kalangan termasuk generasi milenial masa kini. (**)
sumber: kemenag